Tujuan Pengetesan Emisi Gas Buang, Cara Mendeteksi Gangguan Mesin Menggunakan Hasil Uji Emisi

Tujuan Pengetesan Emisi Gas Buang, Cara Mendeteksi Gangguan Mesin Menggunakan Hasil Uji Emisi,- Tujuan pengetesan emisi adalah untuk memperoleh gambaran secara cepat, tentang efisiensi pembakaran di dalam mesin. Setiap proses pembakaran di mobil bensin, akan menghasilkan beberapa parameter gas buang yaitu CO ( carbonmonoxida ), HC ( hydrocarbon ), CO2 ( carbondioxida ), O2 ( oksigen ), Lambda dan AFR ( air fuel ratio ).

Besarnya nilai-nilai dari masing-masing parameter tersebut akan memberikan gambaran kepada kita, tentang kondisi efisiensi pembakaran.

A. CO ( carbonmonoxida )
CO Adalah sisa bensin yang tidak terbakar dan ikut terbuang keluar lewat knalpot. Kondisi ini disebabkan oleh percampuran udara dan bahan bakar ( bensin ) didalam mesin yang tidak seimbang, dimana jumlah bagian bensinnya lebih banyak daripada jumlah bagian udaranya, atau dengan kata lain terjadi campuran kaya / RICH ( kebanyakan bensin ). Hal-hal yang bisa menyebabkan percampuran kaya adalah :

Penyebab Campuran Yang Terlalu Kaya

  • Filter udara mampet.
  • Spuyer ( main jet/slow jet ) korosi, longgar.
  • Stelan karburator salah.
  • Choke menutup terus.
  • Injector tdk mengabut dengan baik ( kencing ).
  • Cold start injector kerja terus menerus.*
  • Terjadi kesalahan sensor ( MAP, Air Flow, IAT, ECT dan O2sensor ). Masing-masing sensor tersebut memberikan signal tegangan yang besar ke ECU, sehingga ECU meningkatkan debit bensin.

Nilai CO yang diperbolehkan maximal 3% untuk mobil karburator dan 2% untuk mobil injeksi.
Semakin kecil nilai CO semakin efisien proses pembakaran yang terjadi di mesin.

Baca juga: Cara Mengatasi Mesin Nglitik

B. HC ( Hidrocarbon )
HC Adalah sisa bensin yang tidak terbakar dan ikut terbuang keluar lewat knalpot. Kondisi ini disebabkan penyebaran panas di ruang bakar yang tidak sempurna.

Faktor Penyebab Pembakaran Bahan Bakar Tidak Sempurna

  • Tekanan kompresi lemah ( piston, ring piston aus, stelan/celah klep tidak tepat ( terlalu rapat ).
  • Stelan timing pengapian yang tidak tepat.
  • Kabel busi rusak/resistornya tinggi.
  • Platina atau pickup coil rusak.
  • Ignition coil rusak/tegangan sekundernya lemah.
  • Pemakain type busi yang tidak tepat ( type busi dingin ).
  • Terjadi kesalahan sensor pengapian ( CKP, CMP ).


Nilai HC yang diperbolehkan maximal 450 ppm, untuk mobil karburator dan 250 ppm untuk mobil injeksi. Semakin kecil nilai HC berarti semakin efisien proses pembakaran yang terjadi di mesin.

C. Lambda (£)
Lamda Merupakan kesimpulan proses pembakaran yang terjadi di mesin, jika Lambdanya 1 ( satu ), Berarti pembakaran bahan bakar dimesin sangat efisien/ideal, dalam artian komposisi percampuran udara dan bahan bakar benar-benar homogen. Namun biasanya kita sangat sulit untuk men-tune up kendaraan untuk memperoleh nilai lambda dengan angka 1 ( satu ). Oleh karenanya nilai lambda ini mempunyai posisi range nilai 0,95 s/d 1,05.

Jika nilai Lambda kurang dari angka itu berarti terjadi percampuran gemuk ( kebanyakan bensin), sedangkan jika nilai Lambda melebihi dari angka itu menandakan campuran kurus (kebanyakan udara ).

Note: saat kita memperhatikan nilai lambda, kita harus mengamati pergerakan nilai O2, jika nilai O2nya tinggi ( diatas 3% atau lebih ) ada kemungkinan terjadi kebocoran knalpot, dan jika knalpot bocor, maka nilai lambda tidak bisa dipakai sebagai patokan kesempurnaan pembakaran.

D. AFR ( Air Fuel Ratio )
AFR Menunjukkan jumlah bagian udara yang terjadi di ruang pembakaran mesin. Idiealnya mesin yang efisien mempunyai nilai AFR 14,7. Namun dalam kenyataannya kita tidak bisa/sulit mengkondisikan mesin/men-tune up mesin untuk mendapatkan nilai AFR sebesar 14,7. Oleh karenanya nilai AFR ini berkisar antara 14,5 s/d 15,5. Apabila nilai AFR kurang dari angka itu/lebih rendah, maka terjadi percampuran gemuk(kebanyakan bensin), sebaliknya jika nilai AFR melebihi dari angka itu berarti terjadi percampuran kurus ( kebanyakan udara ).

Note: saat kita memperhatikan nilai AFR, kita harus mengamati pergerakan nilai O2, jika nilai
O2nya tinggi ( diatas 3% atau lebih ) ada kemungkinan terjadi kebocoran knalpot, dan jika
knalpot bocor, maka nilai AFR tidak bisa dipakai sebagai patokan kesempurnaan pembakaran.

E. Carbondioxida ( CO2 )
Homogenitas percampuran udara dan bahan bakar serta efisiensi pembakaran sebuah mesin bensin bisa dilihat dari besarnya nilai CO2. Untuk proses pembakaran yang paling sempurna nilai CO2 sebesar 16%, namun kita susah mengkondisikan hal tersebut. Olehkarenanya nilai CO2 berkisar antara 12% s/d 16%.

Note: saat kita memperhatikan nilai CO2, kita harus mengamati pergerakan nilai O2, jika nilai O2nya tinggi ( diatas 3% atau lebih ) ada kemungkinan terjadi kebocoran knalpot, dan jika knalpot bocor, maka nilai CO2 tidak bisa dipakai sebagai patokan kesempurnaan pembakaran.

F. Oksigen ( O2 )
Setiap terjadi proses pembakaran bensin, selalu memerlukan udara untuk membentuk homogenitas campuran udara dan bahan bakar sehingga mudah dibakar dengan api busi. Besarnya nilai O2 yang diijinkan adalah maximal 2%, semakin kecil semakin bagus, yang berarti udara yang masuk ke mesin dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk pembakaran. Namun ada kalanya nilai O2 sangat extreme tinggi ( lebih besar dari 2 % ), hal ini biasanya pertanda knalpot bocor. Oleh karenanya jika terjadi kebocoran di knalpot maka, nilai-nilai O2, Lambda, AFR dan CO2, tidak bisa sebagai patokan kesempurnaan pembakaran.

CATATAN :
Dalam setiap design mesin sudah diperhitungkan secara matang, untuk mendapatkan efisiensi pembakaran, dengan jalan mengontrol aliran udara dan bahan bakar sebagus mungkin, sehingga setelah kedua zat tersebut bertemu diruang bakar, campuran yang terjadi adalah campuran yang IDEAL/Homogen. Tetapi dalam kenyataannya, sering terjadi campuran kaya ( banyak bensin ) dan campuran kurus ( banyak udara ). Dalam hal ini terjadinya campuran kurus bukan berarti lubang udaranya menjadi besar volumenya, tetapi justru debit bensin yang dikucurkan ke mesin, berkurang. Problem yang sering terjadi karena lemahnya pompa bahan bakar, injector mampet/buntu, filter bensin kotor atau saluran bahan bakar kotor.

Baca juga:Cara Mengukur Emisi Gas Buang Menggunakan Gas Analyzer

Demikian ulasan kami  tentang Tujuan Pengetesan Emisi Gas Buang, Cara Mendeteksi Gangguan Mesin Menggunakan Hasil Uji Emisi,semoga dapat menambah wawasan kita, jangan lupa kunjungi juga artikel menarik kami berikut. 
Previous
Next Post »