Fungsi dan Cara Kerja Pressure Regulator Pada Sistem Bahan Bakar Injeksi

05.30
Fungsi dan Cara Kerja Pressure Regulator Pada Sistem Bahan Bakar Injeksi,- Pressure regulator merupakan salah satu komponen pada sistem bahan bakar injeksi.

Fungsi pressure regulator pada sistem bahan bakar injeksi

Gambar Pressure Regulator Pada Sistem injeksi
Pressure regulator berfungsi untuk mengatur besarnya tekanan bahan bakar yang mengalir dari fuel pump menuju ke injektor agar besar tekanannya stabil pada standar yang diijinkan. Banyak sedikitnya bahan bakar yang diinjeksikan ke dalam ruang bakar dikontrol sesuai dengan lamanya signal yang diberikan ke injektor, sehingga tekanan yang konstan saat penginjeksian harus dipertahankan.

Cara kerja pressure regulator pada sistem bahan bakar injeksi 

Didalam pressure regulator terdapat 3 komponen utama berupa diafragma, pegas dan katup. Tekanan bahan bakar yang dibangkitkan oleh fuel pump selanjutnya akan dikirim menuju pressure regulator melalui saluran bahan bakar, tekanan bahan bakar ini akan menekan diafragma pada pressure regulator, jika tekanan bahan bakar tinggi maka dapat menekan katup sehingga sebagian bakan bakar akan dikembalikan ke tangki melalui pipa atau saluran pembalik (return pipe).
Gambar Komponen-Komponen Pada Pressure Regulator
Jumlah bahan bakar yang dikembalikan ke tangki bahan bakar ditentukan oleh tegangan atau gaya dorong pada pegas diafragma. Pada bagian sisi pressure regulator tepatnya pada bagian spring (pegas) dihubungkan dengan kevakuman pada intake manifold sehingga jika terjadi kevakuman pada intake manifold maka akan melemahkan tegangan atau gaya dorong pegas diafragma. Jika kevakuman intake manifold tinggi maka akan membuat bertambahnya volume bahan bakar yang akan dikembalikan ke dalam tangki bahan bakar dan akan menurunkan tekanan bahan bakar di delivery pipe. Dengan demikian dapat dikatakan jika kevakuman pada intake manifold naik maka tekanan bahan bakar akan turun. Sehingga tekanan bahan bakar akan dipertahankan sesuai dengan tekanan spesifikasinya ketika mesin hidup.

Pada saat mesin mati dan pompa bahan bakar berhenti bekerja maka pegas pada pressure regulator akan menekan katup sehingga akan membuat katup menutup. Ketika katup ini menutup maka akan membuat check valve pada pompa bahan bakar dan katup pada pressure regulator akan mempertahankan tekanan pada saluran bahan bakar.


Jika pressure regulator tidak berfungsi maka tekana pada saluran bahan bakar tidak dapat dipertahankan. Penyebab komponen pressure regulator yang tidak berfungsi  sebagai mana mestinya antara lain karena adanya kotoran yang menempel pada katup pada pressure regulator sehingga katup tidak bisa menutup dengan baik, hal ini dapat menyebabkan permasalah-permasalahan berikut ini:

1. Mesin susah dihidupkan atau bahkan tidak bisa hidup
2. Putaran stasioner ataubputaran idle mesin menjadi tidak stabil
3. Dapat membuat tenaga mesin menjadi drop atau turun.

Demikian artikel tentang fungsi dan cara kerja pressure regulator pada sistem bahan bakar injeksi,  semoga dapat menambah wawasan tentang dunia otomotif, jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini. 

Fungsi Dan Cara Kerja Injektor Pada Sistem Bahan Bakar EFI

14.30
Fungsi Dan Cara Kerja Injektor Pada Sistem Bahan Bakar EFI,- sistem bahan bakar injeksi atau EFI (Electronic Fuel Injection) merupakan perkembangan dari kendaraan dengan sistem bahan bakar konvensional atau karburator.

Fungsi Injektor

Injektor berfungsi untuk menginjeksikan bahan bakar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mesin pada waktu yang tepat yang dikontrol secara elektronik oleh ECU.

Banyak sedikitnya penginjeksian bahan bakar diatur oleh lamanya injektor membuka atau sering disebut dengan durasi penginjeksian. Injektor dapat bekerja apabila mendapatkan signal tegangan dari ECU (Electronic Control Unit).

Cara kerja injektor

Pada mobil dengan sistem bahan bakar injeksi terdapat beberapa sensor pendukung untuk mendeteksi kondisi kerja mesin dan terdapat ECU (Elektronik Control Modul)  sebagai pengolah data dan pengontrol kerja dari aktuator yang salah satu aktuator yang terdapat pada mobil injeksi adalah injektor.

ECU akan menerima berbagai input data dari sensor-sensor yang ada pada sistem EFI (seperti sensor TPS, sensor IATS, sensor MAP dan lain sebagainya) yang nantinya dijadikan sebagai dasar oleh ECU untuk mengontrol kinerja mesin (salah satunya sebagai dasar untuk  mengontrol durasi penginjeksian bahan bakar oleh Injektor) 

Data-data yang terkumpul akan diolah dan dikalkulasikan oleh ECU yang kemudian ECU akan mengirimkan signal tegangan ke injektor.


Ketika injektor mendapatkan signal tegangan, maka injektor akan membuka dan bahan bakar yang bertekanan akan diinjeksikan ke ruang bakar atau ke intake manifold tergantung dari tipe mesin injeksi yang diusung oleh mobil tersebut.

Membuka dan menutupnya injektor terjadi karena ada tidaknya tegangan listrik yang menuju ke konektor pada injektor. Perhatikan gambar berikut ini :
Gambar Injektor pada sistem bahan bakar EFI
Apabila ada tegangan listrik dari ECU ke konektor injektor maka akan terjadi kemagnetan pada kumparan solenoid yang terdapat di dalam injektor.

Magnet yang terjadi tersebut akan menarik plunger naik ke atas melawan tekanan pegas atau valve spring sehingga akan membuka saluran (nozzel).

Selanjutnya bahan bakar yang betekanan akan masuk ke dalam injektor melalui saluran masuk injektor kemudian melewati saringan (fuel filter pada injektor) dan kemudian keluar dari ujung nozzel sehingga akan terjadi penginjeksian bahan bakar ke dalam ruang bakar. 

Pada saat tegangan listrik diputus atau tidak dialirkan ke injektor maka magnet yang terjadi pada kumparan solenoid akan hilang dan plunger akan turun ke bawah akibat tekanan pegas atau valve spring. Pada saat ini nozzel akan menutup sehingga penginjeksian bahan bakar dihentikan.

Seberapa Lama dan seberapa cepatnya ECU mengirimkan signal tegangan ke injektor  inilah yang akan mempengaruhi lamanya atau cepatnya injektor membuka atau sering disebut dengan istilah durasi penginjeksian. 

Semakin lama kemagnetan yang terbentuk didalam solenoid injektro maka akan semakin lama juga injektor membuka serta berimbas pada bahan bakar yang diinjeksikan akan semakin banyak pula, dan Semakin cepat kemagnetan yang terbentuk didalam solenoid injektro maka akan semakin cepat injektor membuka serta berimbas pada bahan bakar yang diinjeksikan semakin sedikit.

Demikian artikel tentang fungsi dan cara kerja injektor pada sistem injeksi, semoga dapat menambah wawasan tentang ilmu otomotif, kunjungi juga ulasan berikut ini. 

Pengaruh Camber Negatif, Camber Nol Dan Camber Positif pada Sistem Kemudi mobil

07.00
Pengaruh Camber Negatif, Camber Nol Dan Camber Positif pada Sistem Kemudi mobil,-Agar stabilitas pengemudian kendaraan dapat tetap terjaga maka bagian-bagian roda depan kendaraan  atau mobil yang meliputi bagian di sistem kemudi dan sistem suspensi harus diatur sedemikian rupa dengan cara melakukan penyetelan terhadap sudut-sudut geometri roda (wheel aligment).

Salah satu penyetelan sudut-sudut geometri roda yang sering dilakukan pada kendaraan dalam hal ini mobil adalah penyetelan sudut camber.

1.Jenis dan Pengertian Sudut Camber

Sudut camber merupakan kemiringan roda-roda depan kendaraan bagian atas terhadap garis vertikal apabila dilihat pada bagian depan kendaraan.
Jenis Sudut camber pada mobil terdiri dari tiga macam sudut, yaitu sudut camber positif, sudut camber negatif dan sudut camber nol

A.Sudut camber positif
Sudut camber positif yaitu kemiringan garis tengah roda bagian atas ke arah luar terhadap garis vertikal bila dilihat dari arah depan kendaraan.
Gambar sudut camber positif dan sudut camber negative
B.Sudut camber negatif
Sudut camber negatif merupakan kemiringan garis tengah roda bagian atas ke arah dalam terhadap garis vertikal bila dilihat dari arah depan kendaraan.

C. Sudut camber nol
Sudut camber nol yaitu jika garis tengah roda sejajar dengan garis vertikal.
Gambar sudut camber nol

2.Fungsi sudut camber

Fungsi sudut camber diantaranya yaitu:
  • Mencegah keausan ban yang berlebihan pada sisi roda bagian dalam atau bagian luar.
  • Meningkatkan kestabilan kendaraan.
  • Meningkatkan handling kendaraan.

3.Pengaruh Sudut Camber Terhadap Pengemudian Kendaraan

3.1Pengaruh sudut camber positif

Camber positif digunakan dengan maksud untuk mengimbangi bagian bawah roda yang tertarik ke arah luar, ketika kendaraan mulai dibebani dan berjalan. Hal ini berarti ketika kendaraan dibebani atau berjalan maka roda akan tertarik ke arah dalam sehingga beban kendaraan beban kendaraan akan tertumpu pada spindel dengan dudukan yang benar (dengan catatan apabila penyetelan sudut camber positif sesuai dengan spesifikasinya).

Pengaruh sudut camber positif dengan penyetelan yang sesuai
  • Kendaraan akan cenderung tetap berjalan lurus walaupun roda kemudi dilepas.
  • Mencegah agar roda-roda kendaraan tidak slip ke samping.
  • Membantu memperingan pengemudian.
  • Mencegah kemungkinan roda-roda kendaraan lepas.

Pengaruh penyetelan sudut camber terlalu positif
  • Ban akan aus berlebih pada bagian luar.
  • Berkurangnya gaya cengkram roda terhadap jalan sehingga membuat roda slip.
  • Dapat menimbulkan suara abnormal saat kendaraan berbelok.

3.2Pengaruh sudut camber negatif

Camber negatif biasanya dimanfaatkan pada mobil dengan penggerak roda depan atau Front engine front Wheel Drive (FF) untuk mencegah terjadinya kemiringan kendaraan ketika membelok serta untuk menyempurnakan kemampuan belok dari kendaraan tersebut. 

Pengaruh penyetelan sudut camber terlalu negatif
  • Keausan Ban pada bagian dalam akan aus berlebih
  • Roda kemudi menjadi berat pada saat diputar.
  • Dapat menimbulkan suara abnormal saat kendaraan berbelok.

3.3Pengaruh sudut camber Nol

Apabila sudut camber pada kendaraan dibuat nol maka ketika kendaraan dibebani atau berjalan, roda-roda bagian bawah akan semakin tertarik ke arah luar sehingga beban kendaraan akan tertumpu pada bagian luar spindel. Hal ini berakibat membuat pengemudian menjadi berat serta membuat roda slip dan akan menyebabkan keausan yang berlebih pada bagian luar ban.

Baca juga: Penyebab Steer Membanting kesalah satu arah ketika pedal rem diinjak

Demikian artikel pengaruh sudut camber positif, sudut camber nol dan sudut camber negatif pada sistem kemudi, semoga dapat menambah wawasan tentang ilmu otomotif, jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini. 

Penyebab Steer Membanting Kekiri atau kekanan Pada Saat Pedal Rem Diinjak

14.30
Penyebab Steer Membanting Kekiri atau kekanan Pada Saat Pedal Rem Diinjak,- Steer atau kemudi membanting ke salah satu arah, baik ke arah kiri maupun ke arah kanan saat pedal rem diinjak mungkin pernah anda alami. Masalah ini akan menjadikan kurang nyaman dan aman saat berkendara serta beresiko menyebabkan terjadinya kecelakaan.
Gambar steer membanting ke salah satu arah pada saat pedal rem diinjak
Masalah steer yang membanting ke salah satu arah ketika rem diinjak tentu saja disebabkan karena adanya masalah pada sistem rem yaitu antara roda bagian kanan dan roda bagian kiri gaya pengeremannya tidak sama sehingga roda yang mendapatkan gaya pengereman yang lebih besar akan cenderung mengunci dan membuat setir membanting ke arah roda yang mengunci. Secara detail kenapa hal tersebut dapat terjadi, akan kami ulas pada penjelasan berikut ini.

Penyebab Steer Membanting Ke Salah Satu Arah Pada Saat Pedal Rem Diinjak

1. Adanya udara palsu pada sistem rem
Sistem Rem Mobil menggunakan sistem rem jenis hidrolik yang memanfaatkan minyak rem sebagai media penyalur tekanan hidrolis dari pedal rem ke master silinder lalu menuju ke roda-roda melalui saluran minyak rem dan silinder roda.
Gambar proses bleeding rem cakram
Sebagai tempat atau saluran untuk mengalirnya minyak rem pada sistem maka digunakan saluran pipa dan selang. Satu saluran menuju ke roda-roda bagian kanan dan satu saluran lainnya menuju ke roda-roda bagian kiri.

Apabila salah satu saluran terdapat udara palsu di dalamnya maka akan membuat bagian roda tersebut mengalami kegagalan pengereman (tekanan digunakan untuk menekan udara pada sistem) sehingga gaya pengereman akan menurun.

Oleh sebab itu, antara bagian roda kanan dan kiri gaya pengeremannya tidak sama dan akan membuat steer dapat membanting ke arah roda yang mendapatkan gaya pengereman yang lebih besar.

Untuk mengatasi masalah tersebut maka lakukanlah langkah pembuangan udara palsu pada sistem rem atau lebih dikenal dengan istilah bleeding dengan catatan tidak ada kebocoran pada sistem rem.

2. Piston macet
Pada roda mobil untuk menunjang sistem rem dilengkapi dengan komponen silinder roda atau wheel cylinder (untuk rem tromol) dan atau kaliper (untuk rem cakram). Di dalam komponen silinder roda dan kaliper rem tersebut terdapat piston yang berfungsi untuk meneruskan tekanan hidrolis untuk menekan sepatu rem atau pad rem sehingga terjadi pengereman. 
Gambar silinder roda pada rem tromol
Apabila piston pada salah satu roda tersebut macet maka gaya pengereman pada bagian roda tersebut akan lebih kecil atau tidak ada. Hal ini akan membuat steer membanting ke salah satu arah yang gaya pengeremannya lebih besar.

Untuk mengatasi hal tersebut maka lakukanlah pengecekkan pada bagian piston di silinder roda (wheel cylinder)  dan atau piston caliper pada kaliper rem cakram. Apabila ditemui kerusakan pada bagian tersebut dan tidak memungkinkan untuk diperbaiki maka gantilah piston atau mungkin silinder rodanya satu set (tersedia ditoko spare part repaire kit wheel cylinder) 

3. Kanvas atau pad rem aus
Kanvas rem atau brake lining (pada rem tromol) atau pad rem atau brake pad (pada rem cakram) merupakan bagian yang bergesekkan atau bersinggungan dengan tromol rem atau disk rotor saat pengereman berlangsung. Kanvas rem akan bergesekkan dengan tromol atau drum brake sedangkan pad rem akan bergesekkan dengan cakram atau disk rotor

Jika kanvas atau pad rem antara bagian roda kanan dan kiri mengalami tingkat keausan yang berbeda, misalnya secara ekstrimnya kanvas atau pad rem salah satu roda sudah habis sedangkan pada roda lainnya masih maka pengereman pada bagian roda yang kanvas atau pad remnya habis tidak akan optimal. Sehingga hal ini menyebabkan steer membanting ke salah satu sisi pada roda yang memiliki pengereman yang lebih besar.

Oleh sebab itu untuk mengatasi hal tersebut lakukanlah pengecekan kanvas atau pad rem dan apabila kanvas atau pad rem habis maka gantilah dengan yang baru.

4. Penyetelan celah sepatu rem tidak sama
Pada sistem rem tromol, celah sepatu rem harus disetel secara periodik,  Beberapa tipe penyetelan rem tromol dilakukan secara otomatis dan beberapa tipe lainnya harus dilakukan secara manual.

Jika penyetelan celah sepatu rem antara bagian roda kanan dan kiri tidak sama, misalnya celah sepatu rem roda kanan terlalu besar dibanding celah sepatu rem roda kiri maka saat pedal rem diinjak, pengereman akan terjadi lebih dulu pada roda kiri karena celah sepatu rem lebih kecil sehingga roda kiri akan mendapatkan gaya pengereman yang lebih besar dan hal ini dapat menyebabkan steer membantin ke arah kiri.

Untuk mengatasinya hal tesebut diatas,  maka lakukanlah penyetelan celah sepatu rem dengan prosedur yang benar dan pastikan celah sepatu rem kedua roda benar2 sama. 
Demikian artikel tentang penyebab steer membanting ke salah satu arah ketika pedal rem diinjak. Semoga dapat menambah wawasan tentang ilmu otomotif, jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini. 

Fungsi Indikator Keausan Ban atau Tread Wear Indicator (TWI) Yang Harus Kalian Ketahui

07.00
Fungsi Indikator Keausan Ban atau Tread Wear Indicator (TWI) Yang Harus Kalian Ketahui,- Ban merupakan salah satu komponen penjamin keamanan dan kenyamanan bagi pengendara, apabila kondisi ban tidak baik maka keamanan dan kenyamanan saat berkendara tidak akan tercapai.

Ban yang digunakan secara terus menerus sudah pasti akan mengalami keausan. Ban yang telah aus berlebihan maka akan membuat kinerja ban juga semakin menurun.
Gambar indikator keausan ban atau TWI
Untuk mengetahui apakah ban telah mengalami keausan yang berlebihan atau ban sudah melebihi batas keausan maka pada beberapa ban biasanya terdapat indikator keausan ban atau Tread Wear Indicator (TWI).

Indikator keausan ban biasanya berbentuk tanda segitiga yang berada disekeliling ban dan terletak pada bagian tread yang jumlahnya kira-kira empat atau enam tanda. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar di bawah ini :

Tread sendiri berasal dari bahasa inggris yang berarti tapak, tread merupakan bagian dari ban yang langsung bersinggungan dengan permukaan jalan. Tread ini yang akan melindungi lapiasan carcas ban terhadap keausan dan kerusakan akibat kondisi permukaan jalan.

Apabila ban mengalami keausan maka bagian permukaan yang bersinggungan dengan jalan yang akan cepat habis yaitu pada bagian tread.

Akibat Ban Aus Berlebih

Apabila ban telah aus maka bentuk alur ban juga akan menipis. Apabila alur pada permukaan ban ini hilang (habis) maka pada saat kendaraan melintasi jalanan yang tergenang air,  dapat mengakibatkan terjadi efek hidroplanning.

Hidroplanning artinya suatu kondisi dimana ban akan mengambang pada permukaan air sehingga gaya cengkram ban terhadap jalan semakin kecil.
Gambar Ban Telah Aus Dilihat Berdasarkan TWI
Gaya cengkram ban terhadap jalan yang semakin kecil ini akan membuat kendaraan akan lebih sulit dikendalikan dan dapat membahayakan pengendara atau orang lain.

Ban yang telah mengalami keausan berlebihan juga akan memungkinkan bagian carcass ban menjadi rusak. Apabila tread telah aus maka bagian carcass akan sangat mudah rusak karena akan berkemungkinan carcass akan bersinggungan langsung terhadap jalan. Carcass yang rusak akan membuat ban dapat pecah ketika ban digunakan.

Ban pecah saat digunakan berjalan tentunya akan sangat membahayakan baik untuk pengendara atau orang lain.

Oleh sebab itu, untuk menghindari terjadinya resiko kecelakaan saat berkendara yang disebabkan oleh ban maka sebaiknya pada saat akan berkendara perhatikan kondisi ban anda dari kemungkinan telah aus berlebihan dengan melihat indikator keausan ban atau TWI. Bila ban telah aus (permukaan ban sudah mencapai TWI) maka gantilah ban anda dengan yang baru.

Hindari penggunaan Ban Vulkanisir atau ban bekas karena hal ini dapat membuat ban menjadi tidak seimbang (balance) dan dapat mengakibatkan ketika kendaraan digunakan pada kecepatan tinggi akan membuat setir bergetar.

Baca juga: Penyebab Lampu Indikator CHG sistem Pengisian Tidak Mau Padam

Demikian artikel tentang fungsi indikator keausan ban atau TWI, semoga dapat menambah wawasan tentang otomotif, jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini. 

Penyebab Lampu Indikator CHG atau Charge Sistem Pengisian Tidak Mau Mati

06.00
Penyebab Lampu Indikator CHG atau Charge Sistem Pengisian Tidak Mau Mati,- Sistem pengisian pada mobil berfungsi untuk mengisi kembali energi listrik ke dalam baterai sehingga energi listrik yang tersimpan di dalam baterai selalu tersedia. Disamping itu sistem pengisian juga berfungsi untuk mensuplai energi listrik ke seluruh sistem kelistrikan yang terdapat pada kendaraan dalam hal ini mobil.
Gambar Lampu Indikator CHG
Pada sistem pengisian mobil biasanya dilengkapi dengan lampu indikator pengisian atau lampu CHG. Lampu ini berfungsi sebagai indikator apakah terjadi masalah pada sistem pengisian atau tidak yang akan memberikan informasi kepada pengemudi. 

Salah satu masalah yang sering ditemui oleh pemilik mobil dalam hal ini biasanya pengemudi yaitu lampu CHG tidak mau mati atau menyala terus ketika mesin sudah hidup, padahal seharusnya lampu ini harus mati atau padam ketika mesin sudah hidup dan menyala ketika mesin mati pada saat kunci kontak diOn-kan.
Gambar Skema Sistem Pengisian Pada Mobil
Jika lampu CHG ini menyala terus menerus walaupun mesin kondisi hidup,maka hal ini akan sangat mengganggu pengendara serta hal tersebut tentunya mengindikasikan adanya trouble atau masalah pada sistem pengisian mobil tersebut.
Gambar Wiring Diagram Sistem Pengisian Mobil

Penyebab Lampu Indikator CHG Sistem Pengisian Menyala Terus

A. Terminal F pada regulator dan terminal F pada alternator tidak terhubung atau kendor.
Terminal F regulator dan F alternator tidak terhubung dapat disebabkan beberapa hal misalnya sambungan kabel putus atau bisa juga disebabkan sambungan socket yang lepas. Apabila terminal F regulator dengan terminal F alternator tidak terhubung maka hal ini menyebabkan tidak adanya arus yang mengalir menuju ke rotor coil  alternator sehingga rotor coil tidak akan membangkitkan medan magnet yang berakibat tegangan listrik tidak akan dihasilkan termasuk pada terminal N sehingga lampu indikator CHG tetap menyala meskipun mesin telah hidup. 

B. Socket Terminal E pada Alternator Lepas
Socket terminal E pada alternator lepas atau terminal E alternator tidak mendapatkan massa. Hal ini akan menyebabkan rotor coil alternator tidak akan dapat menghasilkan magnet sehingga tegangan listrik yang dihasilkan alternator juga tidak ada dan akibatnya tegangan pada terminal N juga tidak ada dan akhirnya lampu indikator CHG tidak mau padam. 

C. Sikat atau Brush Alternator Habis atau Dibawah Standar
Apabilat sikat alternator habis atau terlalu pendek dapat berakibat arus listrik tidak dapat mengalir menuju rotor coil alternator melalui slip ring sehingga rotor coil tidak akan membangkitkan medan magnet dan akibatnya alternator tidak menghasilkan tengangan termasuk pada terminal N dan berakibat lampu indikator CHG menyala terus. 

D. Kumparan Alternator Rusak
Pada sebuah alternator sistem pengisian mobil terdapat dua buah kumparan yaitu rotor coil dan stator coil. apabila salah satu kumparan ini rusak atau terbakar maka akibatnya alternator tidak akan menghasilkan tegangan listrik termasuk pada terminal N sehingga lampu indikator CHG tetap menyala. 

E. Terminal N Pada Alternator dan N Pada Regulator Tidak Terhubung atau Lepas
Hal ini dapat disebabkan karena kabel putus atau socket terlepas. Apabila terminal N pada alternator dan terminal N pada regulator tidak terhubung maka tegangan N tidak akan dapat dialirkan ke voltage relay regulator untuk mematikan lampu CHG.

F. Terminal IG Regulator Tidak Terhubung Dengan Kunci Kontak
Hal ini biasanya disebabkan karena kabel putus atau socket lepas. Apabila terminal IG regulator tidak terhubung dengan terminal IG kunci kontak maka tidak ada arus yang mengalir ke terminal IG regulator sehingga rotor coil juga tidak dialiri arus. Akibatnya rotor coil tidak ada magnet dan alternator tidak menghasilkan tengangan listrik termasuk pada terminal N.

G. Regulator Pengisian Rusak
Hal ini dapat disebabkan karena rangkaian terminal IG menuju ke terminal F tidak terhubung sehingga berakibat dapat memutus aliran listrik yang menuju ke rotor coil sehingga alternator tidak dapat menghasilkan tegangan listrik. Selain itu,  kerusakan voltage relay pada regulator pengisian juga dapat menyebabkan lampu indikator CHG akan menyala terus menerus meskipun mesin dalam kondisi hidup. 
Demikian Artikel tentang penyebab lampu indikator CHG sistem pengisian tidak mau padam ketika mesin sudah hidup, Semoga dapat menambah wawasan tentang otomotif khususnya tentang sistem pengisian, jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini. 

Fungsi Brush atau Sikat Pada Alternator Sistem Pengisian

21.21
Fungsi Brush atau Sikat Pada Alternator Sistem Pengisian,-Salah satu komponen-komponen alternator yang penting adalah sikat arang atau carbon brush.
Gambar perakitan sikat atau brush alternator

Fungsi Sikat atau Brush Alternator Sistem pengisian. 

Sikat Atau brush atau istilah lainnya arang berfungsi untuk mengalirkan arus listrik dari regulator ke rotor coil pada alternator sistem pengisian. Di dalam alternator terdapat dua buah sikat yaitu sikat positif yang berhubungan dengan terminal F pada alternator dan sikat negatif yang berhubungan dengan body alternator dan atau berhubungan dengan terminal E (massa).

Sikat atau brush didalam alternator sistem pengisian selalu menempel pada bagian slip ring. Ketika rotor coil berputar maka slip ring juga akan ikut berputar sehingga terjadi gesekan antara slip ring dengan sikat atau brush alternator, hal ini menyebabkan sikat lama-kelamaan akan mengalami keausan. Kontak antara sikat dengan slip ring harus baik agar listrik dapat mengalir dengan baik. Karena hal itu maka untuk menjaga kontak antara sikat dengan slip ring agar tetap baik maka pada sikat dilengkapi dengan pegas. Pegas ini berfungsi untuk menekan sikat agar selalu berhubungan dengan slip ring.
Gambar pengukuran panjang sikat atau brush alternator
Sikat atau brush merupakan salah satu penyebab trouble  yang sering terjadi pada alternator, karena komponen inilah (brush) yang sangat cepat sekali mengalami keausan dibandingkan komponen-komponen alternator lainnya. Sikat yang sudah pendek akan menyebabkan tekanan pegas sikat juga akan semakin melemah sehingga hal ini dapat menyebabkan aliran listrik ke rotor coil menjadi kurang baik. berkurangnya aliran listrik ke rotor coil akan menyebabkan medan magnet yang dihasilkan oleh rotor coil akan melemah sehingga tegangan pengisian yang dihasilkan oleh alternator juga ikut menurun sehingga berakibat pada proses pengisian baterai yang kurang(undercharge).

Sedangkan apabila sikat atau brush sudah habis maka arus listrik yang mengalir ke rotor coil pada alternator akan terputus sehingga medan magnet tidak akan dibangkitkan oleh rotor coil. Karena hal tersebut maka alternator tidak akan menghasilkan listrik sehingga sistem pengisian tidak akan terjadi. Oleh sebab itu apabila sikat atau brush alternator habis maka harus segera diganti dengan yang baru.

Sikat atau brush alternator patah atau rumah sikat atau brush holder yang pecah sering terjadi akibat kesalahan saat perakitan alternator. Hal ini dapat terjadi karena pada saat alternator dibongkar (rotor coil dilepas) maka sikat akan keluar akibat dari tekanan pegas. Apabila saat merakit alternator (memasang rotor coil) tidak memasukkan sikat pada rumahnya maka sikat yang keluar ini dapat tertekan oleh slip ring sehingga sikat dapat patah dan rumah sikat dapat pecah.
Gambar Pegas sikat atau brush spring alternator
Pada Saat merakit alternator hendaknya selalu melakukan prosedur yang benar sesuai SOP yang ada terutama saat memasang sikat atau brush alternator sistem pengisian. Pada sistem pengisian konvensional pada saat memasang sikat atau brush alternator maka sikat atau brush seharusnya dimasukkan dahulu ke dalam rumahnya kemudian dengan menggunakan kawat yang dimasukkan ke dalam lubang kecil yang sudah ada pada frame belakang, tahan sikat menggunakan kawat tersebut. Setelah itu, barulah masukkan rotor coil ke dalam frame belakang alternator agar brush holder tidak pecah atau rusak.

Baca juga: Fungsi Komponen-Komponen Sistem Pengisian

Demikian artikel tentang fungsi sikat atau brush alternator pada sistem pengisian, semoga menambah wawasan tentang otomotif, jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini. 

Fungsi Komponen-Komponen Sistem Pengisian Pada Mobil

09.53
Fungsi Komponen-Komponen Sistem Pengisian Pada Mobil,- Sistem pengisian Merupakan salah satu sistem pada mobil yanh sangat penting dan vital keberadaannya, pada artikel ini akan kami bahas beberapa fungsi utama sistem pengisian berikut fungsi komponen-komponen pada sistem pengisian mobil.
Gambar Komponen Sistem Pengisian Mobil

A. Fungsi Sistem Pengisian

Secara garis besar fungsi sistem pengisian pada kendaraan dalam hal ini mobil yaitu:
1. Untuk melakukan pengisian (charging) pada baterai ketika mesin hidup.
2. Untuk mensuplai kebutuhan listrik saat mesin hidup (lampu-lampu dan aksesoris lainnya).

B. Komponen-Komponen Sistem Pengisian  Beserta Fungsinya

1. Alternator
Alternator berfungsi untuk merubah energi gerak (mekanis) dari mesin menjadi energi listrik. Alternator terdiri dari beberapa komponen dalam mendukung sistem kerjanya, 
Gambar Alternator Sistem Pengisian

Fungsi Komponen Pada Alternator Sistem Pengisian

a. Pully
Komponen ini berfungsi sebagai tempat dari tali kipas (V-belt) untuk menggerakkan rotor pada alternator. 

b. Kipas atau fan alternator
Komponen ini berfungsi untuk mendinginkan komponen-komponen didalam alternator meliputi dioda (rectifier), stator coil dan rotor coil. 

c. Rotor Coil
Komponen ini berfungsi untuk membangkitkan medan magnet.

d. Stator Coil
Komponen ini memiliki fungsi untuk membangkitkan listrik arus AC (Alternating Current) atau arus bolak-balik.

e. Dioda (rectifier)
Berfungsi untuk menyearahkan listrik arus AC yang dihasilkan oleh stator coil menjadi listrik arus DC (Direct Current) atau listrik arus searah. 

2. Regulator
Gambar Regulator tipe contact point
Berfungsi untuk mengatur besar kecilnya arus listrik yang dapat masuk ke rotor coil sehingga tegangan yang dihasilkan oleh alternator akan konstan (sama) pada setiap putaran mesin, baik putaran lambat, sedang maupun tinggi. Regulator pada sistem pengisian terdapat 2 tipe, yaitu regulator tipe point (terpisah dengan alternator) dan regulator tipe IC (menjadi satu didalam alternator).
Gambar Regulator tipe IC
Kelebihan dari regulator IC dibandingkan dengan regulator tipe point antara lain :
a. Stabilitas dari pengaturan tegangan dan arus output yang dihasilkan baik.
b.  Ukuran regulator dibuat kecil sehingga dapat menyatu dengan alternator.
c. Tahan terhadap guncangan (getaran)
d. Dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama
e. Tidak memerlukan penyetelan seperti halnya regulator tipe point
f. Tahanan pada kumparan rotor lebih kecil sehingga arusnya dapat diperbesar.

3. Baterai (Aki) 
Komponen ini berfungsi sebagai sumber listrik untuk menyuplai listrik pada sistem starter, sistem pengapian dan sistem kelistrikan body. Selain itu, baterai pada sistem pengisian Memiliki fungsi sebagai penstabil arus dan sebagai tempat penampung sementara tegangan yang dihasilkan saat proses pengisian berlangsung.

4. Ampere Meter (tidak semua mobil dilengkapi komponen ini) 
Ampere meter berfungsi untuk mengukur besarnya arus listrik yang dibangkitkan oleh alternator untuk pengisian baterai.

5. Kunci kontak
Komponen yang satu ini berfungsi sebagai saklar, pada sistem pengisian kunci kontak berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan aliran arus listrik ke lampu CHG (lampu indikator Charge) dan aliran arus listrik ke regulator (aliran listrik yang ke regulator ini berfungsi untuk mengaktifkan regulator).

6. Kabel atau Penghantar Listrik
Kabel berfungsi sebagai konduktor listrik (tempat atau saluran mengalirnya arus listrik dari satu komponen ke komponen yang lain pada sistem pengisian).

7. Sekering (fuse)
Sekering (fuse) berfungsi sebagai pengaman rangkaian kelistrikan jika terjadi hubungan singkat (konslet).

8. Lampu Indikator Charge (CHG)
Lampu indikator (CHG) berfungsi sebagai indikator (indikasi) bahwa sistem pengisian ini berfungsi dengan normal.

Baca juga: Jenis Dan Fungsi Dongkrak Yang Sering Digunakan Pada Bengkel Otomotif

Demikian artikel tentang komponen sistem pengisian pada mobil beserta fungsinya masing-masing, Semoga menambah wawasan tentang ilmu otomotif, jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini. 

Panduan Service Berkala Mobil 40.000 Km

Panduan Service Berkala Mobil 40.000 Km,- Sebagai pemilik mobil kita wajib  mengetahui cara atau prosedure merawat dan menjaga mobil kita. ...