Fungsi Dan Cara Kerja Oksigen Sensor (O2 Sensor) Pada Mobil EFI

06.30 Add Comment
Fungsi Dan Cara Kerja Oksigen Sensor (O2 Sensor) Pada Mobil EFI,- Oksigen sensor sensor merupakan salah satu komponen pada mobil dengan sistem bahan bakar injeksi.  Oksigen sensor pertama kali dikembangkan oleh Robert Bosch dan pertama kali digunakan pada mobil VOLVO diakhir tahun 70 – an . Pada mulanya, oksigen sensor yang digunakan di dunia otomotif hanya mempunyai satu atau dua kabel dan banyak terbuat dari bahan Zirconia dalam bentuk thimble.
Gambar Letak Oksigen Sensor
Oksigen sensor jenis ini akan mulai bekerja jika suhunya sudah mencapai sekitar 400 derajat celcius, sehingga oksigen sensor belum bekerja saat suhu mesin masih dingin.
Oksigen sensor generasi pertama ini sangat tergantung dari panas yang dihasilkan oleh mesin agar dapat mencapai suhu yang dibutuhkan oleh oksigen sensor untuk dapat bekerja dengan maksimal.



Sehingga pada awal tahun 80 – an, pabrikan oksigen sensor menambahkan sebuah batang pemanas kecil di dalam thimble untuk memanaskan ceramic thimble sehingga temperature kerjanya dapat tercapai lebih cepat.

Gambar Komponen pada oksigen sensor
Dengan menggunakan oksigen sensor yang mempunyai elemen pemanas didalamnya memungkinkan sensor dapat dipasang lebih kebawah mendekati catalityc converter ( lokasi yang lebih tepat dimana gas buang dalam bentuk yang lebih homogen dan potensi terjadinya over heat pada sensor dapat diturunkan secara drastis ).


Fungsi Oksigen Sensor (O2 Sensor)

  • untuk memeriksa atau mendeteksi emisi gas buang kendaraan dengan cara mengukur kandungan oksigen di dalam gas buang. 
  • menentukan apakah mobil bekerja dengan campuran bahan bakar terlalu kurus atau terlalu gemuk. 
  • Dengan adanya O2 sensor maka konsumsi bahan bakar bisa jadi lebih irit serta ramah lingkungan. 

Cara Kerja Oksigen Sensor (O2 Sensor)

Gambar konstruksi Oksigen sensor
  • Oksigen sensor akan membandingkan jumlah kandungan O2 dari sisa pembakaran dengan O2 udara luar (Artinya kandungan oksigen dalam gas buang ( 0,3 – 3 % ) dibandingkan dengan kandungan oksigen pada udara atmosfir ( 20,8 % )).
  • Kemudian hasil perbandingan O2 ini di konversikan oleh ZrO2 (Zirconia electrolyte) komponen pada O2 Sensor menjadi arus listrik.
  • Jika kandungan oksigen dalam gas buang sekitar 3 % ( campuran kurus ), O2 sensor menghasilkan tegangan 0,1 volt.
  • Jika kandungan oksigen dalam gas buang sekitar 0,3 % ( campuran kaya ), O2 sensor menghasilkan tegangan 0,9 volt.
  • Tegangan listrik inilah yang nantinya disebut sinyal output yang akan di kirimkan ke ECU sebagai informasi hasil pembakaran yang terjadi pada ruang bakar yg dideteksi melalui gas buang. 
  • Oksigen sensor bekerja seperti switch yang secara konstan akan memberikan sinyal setiap ada perubahan campuran bahan bakar.
  • ECU akan menjaga campuran bahan bakar mendekati campuran ideal dengan melakukan kebalikan dari apa yang dilaporkan oleh oksigen sensor.
  • Jika oksigen sensor memberikan sinyal bahwa campuran bahan bakar terlalu gemuk, maka ECU akan memperpendek waktu kerja injektor untuk mengurangi jumlah bahan bakar yang disemprotkan, agar campuran menjadi lebih kurus.
  • Saat oksigen sensor mendeteksi bahwa campuran bahan bakar terlalu kurus ECU akan memperpanjang waktu kerja injektor untuk menambah jumlah bahan bakar yang disemprotkan, pengaturan terus menerus seperti ini akan menjaga mesin bekerja dengan campuran bahan bakar mendekati campuran ideal.





Demikian artikel tentang fungsi dan cara kerja oksigen sensor pada mobil EFI, Semoga dapat menambah wawasan kita semua, jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini.

Fungsi Dan Cara Kerja ISC (Idle Speed Control) Valve Pada Mesin EFI

08.00 Add Comment
Fungsi Dan Cara Kerja ISC (Idle Speed Control)  Valve Pada Mesin EFI,- ISC (Idle speed control) Valve merupakan rangkaian elektronika yang digunakan untuk mengatur banyak sedikitnya udara yang melalui idle port ketika katup gas dalam posisi tertutup agar mesin dapat tetap hidup pada putaran idle atau stasioner (700 s/d 800 Rpm).
Gambar Letak ISC Valve
Sistem ISC Valve digunakan pada mesin EFI sebagai pengganti sekrup ISAS( idle speed adjusting Screw) dan Sekrup IMAS (Idle Mixture Adjusting Scre) yang diatur secara manual. Dengan adanya ISC maka kita tak perlu mengatur putaran idle  secara manual pada mesin EFI, Karena ISC Valve dikontrol secara elektronik oleh ECU. 

Fungsi ISC Valve ( Idle Speed Control Valve) 

  • Mengatur jumlah udara yang masuk ke intake manifold saat gas tidak diinjak (throttle valve kondisi tertutup).
  • Mengatur putaran langsam atau idle mesin saat AC off dan atau  saat AC On.
  • Menyesuaikan putaran langsam mesin pada segala kondisi secara otomatis.

Cara Kerja ISC Valve (Idle Speed Control Valve) 

ISC valve bekerja berdasarkan kendali dan kontrol ECU berdasarkan input sinyal dari TPS Sensor,  MAP Sensor, MAF Sensor,  CKP dan CMP Sensor, AC Refrigerant Pressure Sensor, dan WTS Sensor. ECU dalam mengontrol dan menggerakan komponen ISC valve terbagi menjadi 4 jenis yaitu: stepper motor, jenis rotary selenoid, jenis duty control dan jenis vacum switching valve (VSV) control.

ISC Valve Jenis Stepper Motor


Gambar Konstruksi ISC Valve jenis Stepper Motor
ISC valve jenis ini memanfaatkan motor stepper yang dikontrol oleh ECU untuk mengatur banyaknya volume udara yang bisa masuk ke dalam intake manifold melalui saluran by-pass. Saat putaran mesin idle (stasioner) dan mesin mendapatkan beban, maka ECU akan mengirim sinyal ke stepper motor untuk membuka saluran by-pass valve dengan cara sinyal dari ECU memerintahkan rotor pada motor stepper berputar. Sehingga batang katup akan tertarik dan saluran by-pass akan membuka. Semakin banyak jumlah udara yang masuk ke dalam intake manifold, maka ECU juga akan menginformasikan injektor untuk menambah durasi penginjeksiannya sehingga jumlah bahan bakar dan udara yang masuk ke dalam ruang bakar semakin bertambah. Dengan bertambahnya campuran bahan bakar dan udara yang masuk ke dalam ruang bakar maka RPM mesin juga akan meningkat (naik).

Ketika kinerja dari mesin dapat mengimbangi beban, maka ISC valve akan memperkecil bukaan saluran by-pass sehingga jumlah udara yang masuk ke dalam intake manifold akan berkurang dan ECU akan memerintahkan injektor untuk mempercepat durasi penginjeksiannya sehingga jumlah bahan bakar yang masuk kedalam ruang bakar berkurang. Ketika campuran udara dan bahan bakar yang masuk ke dalam ruang bakar berkurang maka RPM mesin juga akan turun. 


Baca juga: Fungsi Dan Cara Kerja TPS Sensor Pada Mobil Injeksi

ISC Valve Jenis Duty Control


Gambar Konstruksi ISC jenis Duty Control
Jenis ini menggunakan solenoid  untuk pembangkit kemagnetan dan menggunakan katup pada saluran by-pass serta pegas pengembali sebagai pengembali katup by pass setelah solenoid off. Karakter ISC valve ini ketika keadaan normal menutup (normaly closed) dan ISC valve akan bekerja ketika mendapatkan sinyal dari ECU.


ISC  Valve tipe ini hanya bekerja ketika mesin mendapat beban seperti beban saat AC pertama kali dihidupkan atau beban kelistrikan lainnnya mulai bekerja. Saat mesin mendapat beban maka ECU akan mengirim sinyal tegangan ke selenoid, dan sinyal tegangan pada selenoid ini akan membentuk kemagnetan sehingga selenoid dapat menarik katup penutup pada saluran by-pass. Dilain sisi ECU juga akan memerintahkan injektor untuk menambah durasi penginjeksian sehingga campuran bahan bakar dan udara akan semakin bertambah dan putaran mesin akan bertambah pula. Ketika beban mesin sudah hilang maka ECU akan mengurangi sinyal tegangan yang dikirimkan ke selenoid ini sehingga kemagnetan pada selenoid akan semakin hilang seiring dengan berkurangnya sinyal tegangan dari ECU. Ketika selenoid sudah tidak mendapatkan sinyal tegangan dari ECU maka katup akan kembali menutup saluran by-pass yang dibantu oleh pegas pengembali dan injektor pun akan mempercepat durasi penginjeksiannya, sehingga putaran mesinpun akan semakin turun. 


ISC Valve Jenis VSV Control
Gambar Konstruksi ISC tipe VSV Control
ISC Valve jenis vacum switching valve (VSV) control ini memiliki komponen dan cara pengontrolan saluran by-pass yang hampir sama dengan ISC tipe duty control, hanya saja perbedaannya terdapat pada sinyal tegangan input dari ECU yang digunakan untuk mendeteksi pembukaan katup ISC Valve. Sinyal yang digunakan oleh ECU untuk mengatur pembukaan katup ISC ini mengambil inputan dari nilai kevakuman di intake manifold.

ISC Valve Jenis Rotary Selenoid Control

Gambar Konstruksi ISC jenia Rotary Control Valve
ISC valve jenis ini secara prinsip hampir sama dengan ISC valve jenis stepper motor, hanya saja komponen yang digunakan untuk mengatur besar kecilnya saluran by-pass berbeda. Pada ISC valve jenis ini komponen penggeraknya menggunakan rotary dan selenoid. Selenoid berfungsi untuk membangkitkan kemagnetan sehingga rotary dapat bergerak atau berputar, rotary ketika bergerak ini berfungsi untuk mengatur bukaan saluran by-pass yang dibantu dengan plat bimetal yang difungsikan untuk penyeimbang dan sebagai pegas pengembali.
Gambar Wiring Diagram ISC Valve
Baca Juga: Fungsi Dan Cara Kerja OCV Valve Pada Mobil Injeksi

Demikian artikel tentang Fungsi dan Cara Kerja ISC Valve pada Sistem EFI,  Semoga dapat menambah wawasan kita tentang otomotif, jangan lupa kunjungi juga ulasan kami berikut ini.

Fungsi Dan Cara Kerja CKP (Crank Shaft Position) Sensor Dan CMP (Camshaft Position) Sensor Pada Sistem Injeksi

06.30
Fungsi dan Cara kerja CKP Dan CMP Sensor Pada Sistem Injeksi,- CKP dan CMP sensor merupakan 2 sensor yang sangat penting pada sistem injeksi mobil,  sensor Ok nikah yang nantinya akan mendeteksi putaran mesin dan posisi Top piston agar koil dan injektor dapat bekerja pada saat atau timing yang tepat. 
Gambar Letak CKP Sensor



Fungsi CKP Sensor Dan CMP Sensor

CKP sensor memberikan informasi ke ECU tentang kecepatan putaran mesin dan Timing pengapian. Sedangkan CMP sensor memberikan informasi ke ECU tentang posisi silinder 1 sedang berada pada posisi TOP Kompresi, dan pada mobil yang sudah menggunakan teknologi VVTI, pembacaan dari CMP sensor ini juga akan mempengaruhi kerja dari sistem VVTI.
Gambar Letak CMP Sensor
CKP sensor dan CMP sensor dalam menjalankan fungsi dan kerjanya menggunakan sensor tipe sensor putaran,  sensor ini menggunakan 2 metode dalam pendeteksiannya yaitu yang oertama sensor ini memiliki konstruksi bergerigi didalam distributor (biasanya memiliki 4 gerigi yang presisi) saat gigi tersebut melewati pick up coil pada distributor maka akan terjadi lonjakan atau induksi tegangan yang mana lonjakan ini akan dikirim ke ECU bahwasannya data tersebut menyatakan posisi crankshaft setiap seperempat putaran. Tipe yang kedua menggunakan ring gear motor starter namun satu giginya dihilangkan. 


Cara Kerja CKP Sensor Dan CMP Sensor

Cara kerja CKP dan CMP sensor sama halnya dengan sensor putaran. Sensor putaran yang digunakan oleh CKP sensor dan CMP sensor terdiri dari dua type yaitu Sensor PutaranTipe Induksi dan Sensor Putaran Tipe Hall Effect. Prinsip kerja dari kedua jenis sensor tersebut pada dasarnya sama, hanya kontruksinya saja yang berbeda, tergantung desain dan kebutuhan aplikasi pabrikan kendaraan.

Sensor Putaran Tipe Iduksi (Inductive Sensor)
Sensor putaran tipe induksi disebut juga Magnetic Pickup Sensor, saat bekerja sensor ini menghasilkan tegangan listrik AC akibat dari efek induksi magnet pada gulungan coil di dalam sensor.

Saat gigi triger wheel mendekati kutub sensor pada jarak yang cukup dekat ( G ) medan magnet yang mengelilingi gulungan coil akan berubah.

Akibat dari perubahan medan magnet tersebut, maka gulungan coil akan menghasilkan tegangan induksi, besarnya tegangan induksi tergantung pada kekuatan dan kecepatan perubahan medan magnet, satu gelombang penuh akan dihasilkan setiap satu gigi triger wheel melewati kutub magnet sensor.

Gambar dibawah menunjukkan komponen dasar sensor type inductive dan bentuk gelombang yang dihasilkan.
Gambar Sensor putaran tipe induktive

Keterangan:
1. Sensor housing
2. Output signal wires
3. Coaxial coated protection
4. Permanent magnet
5. Inductive coil
6. Pole pin
7. Trigger wheel
G. Air gap

Tahanan gulungan sensor ini berkisar antar 500 – 1500 ohm tergantung dari aplikasi sensor tersebut. Dalam beberapa kasus ada sensor yang menggunakan tahanan terendah 200 ohm dan tahanan tertinggi mencapai 2500 ohm.

Tegangan listrik yang dihasilkan oleh sensor tergantung dari kecepatan putaran trigger wheel dan jumlah gulungan coil di dalam sensor ini. 

Adapun Tegangan output yang dihasilkan berkisar antara 1 – 2 volt pada saat mesin distarter, namun pada saat putaran tinggi tegangan yang dihasilkan bisa lebih tinggi lagi. 

Tegangan yang dihasilkan oleh sensor ini sangat lemah sehingga mudah terganggu oleh sinyal tegangan yang lebih tinggi, contohnya sinyal tegangan dari sistem pengapian, Oleh karena itu untuk mencegah gangguan tersebut kabel dari sensor yang menuju control unit biasanya dilindungi oleh cable shield ( coaxial coated wire ).

Sensor Putaran Tipe Hall Effect Sensor
Berbeda dengan inductive sensor, sinyal output yang dihasilkan hall effect sensor tidak tergantung pada perubahan medan magnet. Tegangan output yang dihasilkan biasanya berkisar dalam milli volt ( mV ) yang kemudian diperkuat oleh komponen elektronik yang dipasang di dalam sensor housing. 

Gambar dibawah menunjukkan jenis sensor tipe hall effect. Tipe sinyal yang dihasilkan berbentuk sinyal digital ( square form ). 

Lebar sinyal yang dihasilkan selalu tetap , namun frekuensi sinyal akan berubah-ubah sesuai dengan kecepatan putaran. Berbeda dengan sensor tipe induksi yang dapat memproduksi tegangan sendiri, hall effect sensor membutuhkan suplai tegangan external yang dibutuhkan komponen elektroniknya. 

Biasanya tegangan suplai ( Vcc ) sebesar 5 Volt namun pada beberapa sistem ada yang memakai tegangan suplai 12 Volt


Gambar Sensor Putaran Tipe Hall Effect Sensor
Keterangan:
1. Sensor housing
2. Output wires (+Vcc, −Vcc and signal)
3. Integrated electronics
4. Permanent magnet
5. Hall Effect device
6. Trigger wheel
G. Air gap

Baca juga: Fungsi Dan Cara Kerja OCV Valve Pada Sistem Injeksi


Demikian artikel tentang Fungsi dan Cara Kerja CKP sensor dan CMP sensor, semoga dapat menambah wawasan kita tentang otomotif. Jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini. 

Fungsi Dan Cara Kerja OCV (Oil Control Valve) Pada Mesin Dengan Teknologi VVTI

06.30
Fungsi Dan Cara Kerja OCV (Oil Control Valve) Pada Mesin Dengan Teknologi VVTI,- OCV atau sering disebut dengan istilah Oil control valve berfungsi untuk mengatur pembukaan saluran oli menuju vvt-i controller.

Fungsi OCV Valve (Oil Control Valve) 

Gambar letak OCV pada Mesin Mobil
OCV akan mengatur besar tekanan hidrolik yang dimasukkan menuju Advance chamber dan retarding chamber yang terdapat pada VVT-i Controler dengan mengatur posisi Spool Valve sesuai dengan signal duty yang diberikan oleh ECU sehingga katub isap akan membuka secara bervariasi sesuai kondisi mesin berdasarkan input sinyal dari kecepatan mesin, IAT sensor, TPS sensor,  MAP sensor, CMP sensor,  Serta WTS sensor.


Gambar Konstruksi OCV (Oil Control Valve) 

Cara Kerja OCV Valve (Oil Control Valve) 

Gambar mekanisme kerja OCV pada teknologi VVT-i
Timing Advance
Pada saat sinyal duty ratio dari ECU besar (Heavy)  Maka posisi spool valve akan bergerak kekiri,  sehingga pada tekanan oli akan masuk menuju mekanisme vvt-i  melalui advance chamber (advance chamber terbuka) dan pada saat yang sama retard chamber terjadi pengosongan oli (retard chamber tertutup),sehingga hal ini akan mendorong mekanisme vvt-i pada  intake camshaft untuk memajukan timing bukaan katub hisap. Untuk lebih jelasnya silahkan amati gambar dibawah ini. 
Gambar posisi timing advance pada ocv
Timing Holding
Pada saat sinyal duty ratio dari ECU stabil atau sedang  (Hold)  Maka posisi spool valve akan bergerak tertahan diposisi tengah sehingga tidak terjadi perubahan tekanan oli yang masuk menuju mekanisme vvt-i baik pada advance chamber maupun retard chamber sehingga hal ini akan menahan posisi mekanisme vvt-i pada pada posisi holding dan intake camshaft tidak akan memajukan atau memperlambat timing bukaan katub hisap. Untuk lebih jelasnya silahkan amati gambar dibawah ini. 
Gambar posisi timing holding pada OCV
Timing Retarding
Pada saat sinyal duty ratio dari ECU kecil (light)  Maka posisi spool valve akan bergerak kekanan sehingga pada tekanan oli akan masuk menuju mekanisme vvt-i  melalui retard chamber (retard chamber terbuka) dan pada saat yang sama advance chamber terjadi pengosongan oli (advance chamber tertutup),sehingga hal ini akan mendorong mekanisme vvt-i pada  intake camshaft untuk memundurkan atau memperlambat timing bukaan katub hisap. Untuk lebih jelasnya silahkan amati gambar dibawah ini. 
Gambar posisi timing retarding pada OCV
Cara Memeriksa Kerja OCV
Ada dua cara untuk memeriksa kerja OCV,yaitu:

Menggunakan Scanner EFI
Pemeriksaan ini dapat dilakukan pada menu aktif test atau aktuator tes pada engine scanner. Saat menggunakan aktif test, bisa dipilih secara bertahap pengujian kerja ocv ini, mulai minimal hingga maksimal hingga mesin mati, tentu saja hal ini dilakukan saat mesin idle.

Jika sistem VVT-i dapat dioperasikan melalui Active Test, ini dapat dianggap bahwa sistem VVT-i bekerja normal, yang boleh dikatakan juga bahwa tekanan oli dan filter oli OCV tidak tersumbat atau dalam kondisi baik.

Tanpa Menggunakan Scanner EFI
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan cara melepas soket ocv kemudian memberi arus listrik secara langsung ke OCV dengan tegangan baterai 12 volt. kutup positif dan negatif boleh terbalik, karena kita akan memberi arus listrik pada gulungan spul ocv, ini pun juga sama lakukan hanya saat mesin idle.

Tanda-tanda OCV valve masih baik atau masih bekerja dengan normal adalah saat diberi aliran arus listrik dengan tegangan 12 volt pada soket OCV, maka rpm mesin akan turun dan mesin bergetar dan terkadang mesin akan mati atau mesin langsung mati.


Demikian artikel tentang Fungsi Dan Cara Kerja OCV (Oil Control Valve)  Pada Mobil,Semoga dapat menambah wawasan tentang dunia otomotif, jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini. 

Fungsi Dan Cara Kerja TPS Sensor (Throttle Position Sensor) Pada Sistem Injeksi

06.30
Fungsi Dan Cara Kerja TPS Sensor (Throttle Position Sensor)  Pada Sistem Injeksi,- TPS Sensor atau throttle position sensor terpasang menyatu di throttle body serta selalu berhubungan dengan throttle valve atau katup gas.
Gambar Letak TPS sensor

Fungsi TPS Sensor 

TPS Sensor berfungsi untuk mendeteksi perubahan posisi atau sudut bukaan dari throttle gas yang kemudian akan dirubah menjadi sinyal elektrik untuk  dikirim ke ECU sebagai salah satu sinyal input yang nantinya digunakan untuk menentukan durasi penginjeksian bahan bakar ke dalam ruang bakar. Selain fungsi utamanya tersebut, TPS difungsikan oleh ECU untuk memberikan  beberapa informasi tentang hal-hal berikut:
  • Digunakan Sebagai Engine mode ketika posisi throttle gas menutup (pada posisi idle/ stasioner), setengah membuka, dan ketika membuka penuh. 
  • Digunakan sebagai kontrol emisi saat posisi throttle gas terbuka penuh dan pada saat switch AC mati. 
  • Sebagai koreksi perbandingan campuran udara dan bahan bakar. 
  • Sebagai koreksi peningkatan tenaga pada mesin. 
  • Sebagai kontrol penghentian bahan bakar ketika mesin pada posisi deselerasi (Perlambatan kecepatan) 

Cara Kerja TPS Sensor

Ciri-ciri dari sensor TPS ini adalah selalu berada disamping throttle valve atau katup gas. Perubahan besarnya sinyal voltase output atau tegangan keluar sensor tergantung dari posisi bukaan throttle valve. TPS yang sering dipakai pada mobil injeksi yaitu TPS Sensor tipe variabel resistor dan TPS Sensor tipe kontak point.

TPS Sensor Tipe Variabel Resistor
TPS sensor tipe variabel resistor menggunakan resistor sebagai perubah besarnya sinyal tegangan output sensor, sensor ini menggunakan tiga terminal yaitu terminal voltase input (VC), terminal voltase output (VTA) dan terminal massa (E2). Tegangan yang digunakan pada sensor TPS model variabel resistor ini menggunakan tegangan dari ECU sebesar 5 voltage.

A. Terminal VC
Terminal Ini disebut sebagai terminal arus yang mengirimkan reference voltage sebesar 5 volt ke sensor.

B. Terminal VTA1
Terminal ini merupakan output dari sensor yang berisi listrik bertegangan tertentu. Besaran voltage dijadikan informasi yang menunjukan sudut pembukaan katup.

C. Terminal E2
sementara terminal terakhir juga disebut massa yang terhubung ke masa ECU agar proses bisa berjalan. Kabel ini biasanya berwarna hitam.
Gambar diagram kelistrikan TPS sensor tipe variabel resistor
Perbandingan antara bukaan throttle gas dengan besarnya voltase yang dikeluarkan oleh sensor TPS ini adalah berbanding lurus, dan perbandingan antara bukaan throttle gas dengan resistansi atau tahanannya berbanding terbalik. Ketika posisi idle tegangan yang dikeluarkan sensor TPS ini adalah antara 0,6 - 0,9 volt, sedangkan ketika throttle valve terbuka penuh maka tegangan yang dikeluarkan sensor TPS ini adalah antara 3,5 – 4,7 volt. Untuk memperjelasnya, maka dapat dilihat pada gambar di atas tentang diagram kelistrikan TPS tipe variabel resistor.

Pada gambar diatas bisa kita pahami bahwasannya ECU akan memberikan sinyal input melalui terminal VC ke TPS sensor sebesar 5 Volt dan tegangan ini akan di konversikan sesuai sudut bukaan throttke valve menjadi sinyal output yang akan dikirim ke ECU melalui terminal VTA1.

TPS Sensor Tipe Kontak Point
Signal dari TPS sensor jenis ini ada dua yaitu signal IDL dan signal PSW. Signal IDL dipakai untuk menghentikan aliran bahan bakar sedangkan signal PSW digunakan untuk menambah penginjeksian bahan bakar.


Gambar diagram kelistrikan TPS sensor tipe kontak poin
TPS sensor tipe kontak point ini berfungsi untuk mendeteksi perubahan dari bukaan throttle gas dan terminal yang digunakan pada TPS  sensor tipe kontak point juga sama dengan dengan  TPS sensor tipe variabel resistor yaitu dengan menggunakan tiga kabel antara lain terminal IDL, PSW serta E1 atau TL.  Pendeteksian TPS  sensor tipe kontak point ini hanya dilakukan pada saat throttle valve pada posisi 0 – 5 derajat sebagai posisi idle dan terminal kabel pada sensor TPS yang terhubung adalah terminal IDL dengan terminal E1 atau TL sebagai posisi putaran idle dan saat kendaraan melakukan deselerasi. Ketika posisi throttle valve antara 6 – 49 derajat, maka kontak point pada TPS sensor ini tidak terhubung, sehingga ECU akan mendeteksi posisi ini sebagai putaran menengah. Sedangkan ketika throttle valve membuka dari 50 derajat sampai throttle valve terbuka penuh, maka terminal pada sensor TPS yang terhubung adalah terminal PSW dan terminal E1 atau TL. Pada posisi ini ECU akan mendeteksi posisi dari TPS ini sebagai putaran tinggi atau full load.


Demikian artikel tentang fungsi dan cara kerja TPS sensor pada sistem injeksi,  semoga dapat menambah wawasan kita tentang otomotif, jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini.

Fungsi Dan Cara Kerja MAF (Mass Air Flow) Sensor Pada Sistem Injeksi

06.30
Fungsi Dan Cara Kerja MAF (Mass Air Flow) Sensor,- Kita sering mendengar istilah MAF sensor pada mobil, atau kita pernah mendapatkan saran penggantian MAF sensor untuk kerusakan mobil kita. Mass Airflow Sensor (MAF) adalah salah satu komponen pada mobil dengan sistem bahan bakar injeksi. MAF sensor dipasang pada saluran udara antara filter dan intake maniflod. MAF Sensor terdapat pada EFI tipe L (L-EFI). Pada umunya di dalam sensor ini juga terdapat Sensor IAT(Intake air temperature),  Jadi MAF sensor dan IAT sensor pada mobil injeksi tipe L-EFI memiliki satu socket. Beda dengan mobil dengan tipe D-EFI yang man sensor IATnya terpisah tersendiri dari MAP sensor. 
Gambar Letak MAF Sensor


Fungsi MAF (Mass Air Flow Sensor)

Fungsi utama MAF sensor adalah untuk mengukur jumlah udara yang masuk ke dalam ruang bakar. Di dalam MAF sensor biasanya juga terdapat IAT (Intake Air Temperature) sensor yang mana sensor ini berfungsi untuk mendeteksi suhu udara yang masuk se saluran intake manifold.

Perubahan banyak tidaknya udara yang masuk melalui intake manifold menuju ruang bakar ini sesuai dengan besar kecilnya bukaan katup throttle. Banyaknya aliran udara yang masuk akan merubah output signal dari sensor ini yang menuju ke ECU. Perubahan signal pada sensor ini dengan memanfaatkan perubahan tahanan yang terjadi berdasarkan banyak sedikitnya aliran udara yang masuk. Pada mesin L-EFI, sensor air flow meter ini sangatlah penting, sehingga sensor ini harus memenuhi beberapa syarat :
  • Memiliki respon yang akurat terhadap berbagai perubahan aliran udara yang masuk
  • Memiliki respon yang cepat terhadap berbagai perubahan aliran udara yang masuk
  • Proses signalnya mudah
MAF Sensor memiliki 2 tipe pendeteksian udara yaitu MAF sensor dengan tipe deteksi langsung dan MAF sensor dengan tipe deteksi tidak langsung. Pada tipe deteksi langsung ini, untuk melakukan pendeteksian udaranya menggunakan beberapa cara yaitu MAF sensor dengan menggunakan vane, MAF sensor tipe karman vortek serta MAF sensor dengan pendeteksian berat yaitu pendeteksian udara dengan menggunakan hot wire type dan dengan hot file type. Sedangkan MAF sensor dengan pendeteksian secara tidak langsung yaitu MAF sensor dengan menggunakan tipe speed density dan MAF sensor tipe throttle speed.
Gambar Konstruksi MAF Sensor Hot Wire Type

Gambar Konstruksi MAF Sensor Tipe Karman Vortex

Baca juga: Cara Memeriksa Ball Joint Mobil Rusak Dan Mengenali Gejala-Gejalanya

MAF sensor bekerja dengan mengukur masa udara berdasarkan kecepatan aliran udara tersebut didalam sensor. Jadi, sebelumnya diameter sekitar sensor ini sudah di set dan sudah disesuaikan dengan pembacaan sensor, jadi kecepatan udara yang mengalir per detik bisa di translate menjadi satuan gram.

Cara Kerja MAF Sensor

MAF sensor terdiri dari dua buah kawat yakni thermister atau thermistor dan hot wire. Dimana thermister atau thermistor merupakan kawat yang memiliki tahanan variatif terhadap suhu yang mengenainya. Inilah dipakai untuk mendeteksi suhu udara intake pada IAT Sensor,  sedangkan Hot wire adalah kawat yang dialiri arus listrik secara terus menerus agar menjadi panas, kemudian panas tersebut dijadikan sebuah sistem untuk mendeteksi aliran udaranya.
Gambar Sirkuit MAF Sensor
Cara kerjanya, saat kunci kontak ON, maka arus listrik dari baterai mengalir masuk menuju ke hot wire. Akibatnya, terjadilah peningkatan suhu pada kawat ini (panas akibat penumpukan elektron), anggaplah listrik awal yang mengalir sekitar 3 Volt.

Ketika mesin  atau engine distarter, maka akan terjadi aliran udara dari filter masuk ke intake. Aliran udara ini akan melewati kawat hot wire tadi yang mengakibatkan, suhu pada hot wire akan turun. Hal ini karena panas pada kawat hot wire akan terlepas oleh aliran udara.

Karena hot wire ini bersifat konstan maka ketika ada penurunan suhu, maka arus listrik yang mengalir juga menjadi lebih besar. Saat kecepatan idle, maka listrik yang mengalir lebih besar dari listrik awal yang hanya 3 volt. Bisa mencapai 5 volt.

Semakin cepat aliran udara, maka semakin banyak pula massa udara yang masuk kedalam mesin dan semakin banyak pula arus listrik yang dibutuhkan oleh hot wire. Arus listrik output yang menuju hot wire inilah yang dijadikan ECU untuk menentukan berapa massa udara yang masuk ke dalam mesin.

Demikian artikel tentang fungsi dan cara kerja MAF sensor pada mobil injeksi, Semoga dapat menambah wawasan kita tentang dunia otomotif, jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini. 

Akibat Ball Joint Pada Sistem Kemudi Mobil Rusak Dan Cara Pemeriksaannya

06.30
Akibat Ball Joint Pada Sistem Kemudi Mobil Rusak Dan Cara Pemeriksaannya,- Ball joint merupakan salah satu komponen pada sistem kemudi mobil atau lebih sering dikenal dengan istilah kaki-kaki mobil (bagian understeel) yang memiliki fungsi untuk mengikat antara steering knuckle dengan arm. Selain itu,  ball joint juga memiliki fungsi sebagai sumbu putaran roda pada saat kendaraan dibelokkan sehingga ball joint inilah yang akan menerima beban secara vertikal maupun lateral kendaraan. 
Gambar konstruksi ball join pada mobil

Gejala-Gejala Ball Joint Rusak

Ball joint lama kelamaan akan mengalami kerusakan akibat penggunaannya, Adapun Permaslahan atau Akibat yang ditimbulkan karena ball joint rusak antara lain:
  • Roda bagian depan kocak.
  • Pada saat kendaraan dibelokkan akan terdengar suara mendecit.
  • Pada saat mobil melewati jalanan yang tidak rata biasanya akan terdengar suara gemuruh (gluduk-gluduk) 
  • Ban mengalami keausan yang tidak merata, terutama pada bagian dalam sisi ban
  • Ban cenderung mengalami keausan secara bergelombang.
  • Kendaraan akan sulit untuk dikendalikan.
  • Karet penutup debu atau boot pada ball joint  cenderung cepat robek.
Gambar letak ball joint mobil

Cara memeriksa Ball Joint

Untuk melakukan pemeriksaan ball joint untuk mengetahui kondisi ball joint masih layak atau tidak, maka dapat dilakukan pemeriksaan dengan cara berikut ini:
  • Angkat bagian depan mobil dengan menggunakan dongkrak yang tersedia. 
  • Sebagai pengaman kendaraan pasanglah 2 bauh jack stand pada area cross member.
  • Pastikan kondisi pemasangan jack stand sudah aman, dengan jalan menggoyangkan bagian depan kendaraa. 
  • Pegang sisi roda bagian atas dan bagian bawah, kemudian goyangkan roda ke arah dalam dan luar.
Gambar pemeriksaan kekocakan roda
  • Jika diketahui roda mengalami kekocakkan maka ada dua kemungkinan yang terjadi yaitu ball joint rusak atau bearing roda rusak.
  • Jika tersedia two post lift, Untuk memastikan kedua kemungkinan diatas, naikkan kendaraan dengan menggunakan two post lift.
  • Sebelum kendaraan dinaikkan pasang arm post lift sesuai dengan SOP.
  • Masukklah ke ruang pengemudi dan kemudian naikkan kendaraan setinggi posisi setengah badan.
  • Injaklah pedal rem, kemudian mekanik yang dibagian luar kendaraan melakukan pemeriksaan dengan cara goyangkan roda ke arah dalam dan luar kembali.
Gambar pemeriksaan kokocakan roda atau ball joint
  • Apabila setelah pedal rem diinjak dan ternyata roda tidak lagi terasa kocak maka dapat dipastikan yang rusak adalah bearing roda, akan tetapi jika roda masih tetap kocak pada saat pedal rem diinjak maka komponen yang rusak adalah ball joint nya.
  • Jika tidak tersedia two postlift bisa dilakukan cara yg sama cuma berbeda posisi ketinggian kendaraan(ketinggian disesuaikan dengan memanfaatkan jack stand yang ada).


Apabila ball joint telah rusak, maka ball joint dapat diperbaiki di bengkel spesialis understeel atau diganti dengan yang baru (tergantung tingkat keausannya). Ball joint yang rusak dapat diganti dengan ball jointnya itu sendiri atau diganti satu set dengan arm nya (tergantung dari kondisi bushing pada arm, apabila bushing pada arm telah rusak atau retak maka sebaiknya ball joint diganti satu set dengan arm nya).

Demikian artikel tentang Akibat yang disebabkan ball joint rusak berikut cara pemeriksaannya. Semoga dapat menambah wawasan kita dalam dunia otomotif.jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini.

Fungsi Dan Cara Kerja IAT Sensor Pada Mobil Injeksi

04.30
Fungsi dan Cara Kerja IAT (Intake Air Temperature) Sensor Pada Mobil Injeksi,-  IAT sensor berfungsi untuk mengukur atau mendeteksi temperatur udara yang masuk ke dalam intake manifold. Setelah itu IAT sensor ini akan mengirimkan sinyal output berdasarkan suhu udara masuk yang dideteksi ke ECU. Sinyal output ini kemudian digunakan oleh ECU sebagai salah satu dasar untuk mengatur seberapa banyak penginjeksian bahan bakar yang akan diinjeksikan oleh injektor kedalam ruang bakar.
Gambar sirkuit kelistrikan IAT sensor
IAT Sensor pada mesin injeksi tipe L-EFI menyatu dengan Air flow sensor (MAF sensor). IAT sensor biasanya berada disaluran antara filter udara dan throttle body, sedangkan pada mesin injeksi tipe D-EFI, IAT sensor biasanya berada setelah air filter.

IAT Sensor ini menggunakan komponen elektronik berupa thermistor yang digunakan sebagai pendeteksi temperatur udara yang masuk ke dalam intake manifold. Besar kecilnya tahanan pada komponen thermistor ini berubah-ubah sesuai dengan tinggi rendahnya suhu atau temperatur udara yang melewatinya.
Gambar Konstruksi IAT sensor
Thermistor yang digunakan pada IAT sensor  adalah thermistor NTC (Negative Temperature Coeffisien) yang artinya perbandingan antara temperatur udara dan tahanan pada IAT sensor adalah berbanding terbalik. Semakin tinggi temperatur udara yang masuk ke dalam intake manifold maka tahanan pada thermistornya akan semakin rendah, dan sebaliknya bila semakin rendah temperatur udara yang masuk ke dalam intake manifold maka tahanan pada thermistornya akan semakin tinggi.

Cara Kerja IAT Sensor

Gambar wiring IAT sensor
ECU akan memberikan sinyal tegangan sebesar 5 volt ke IAT sensor melalui internal resistor sebagai tegangan input. Nilai tegangan ini akan berubah sesuai dengan kondisi dari temperatur udara yang masuk ke dalam intake manifold karena sifat IAT sensor yang memanfaatkan thermistor jenis NTC. Fluktuasi dari tegangan yang ditimbulkan oleh IAT sensor ini akan dideteksi oleh ECU sebagai perubahan temperatur udara yang masuk pada sensor dan menjadi sinyal inputan dari ECU yang nantinya sebagai salah satu dasar untuk menentukan seberapa banyak penginjeksian bahan bakar yang harus diinjeksikan oleh injektor ke dalam ruang bakar. 


Demikian artikel tentang fungsi dan cara kerja IAT sensor pada sistem injeksi, semoga dapat menambah wawasan tentang ilmu otomotif, jangan lupa kunjungi juga ulasan berikut ini.

Panduan Service Berkala Mobil 40.000 Km

Panduan Service Berkala Mobil 40.000 Km,- Sebagai pemilik mobil kita wajib  mengetahui cara atau prosedure merawat dan menjaga mobil kita. ...